Home > Artikel > Perasaan Seorang Ibu

Perasaan Seorang Ibu

Di salah satu episode dalam komik Chibimarukochan diceritakan Maruko terluka di kepalanya karena terbentur sudut papan tulis. Gara-garanya sebenarnya sepele, Maruko tak tahan melihat Takashi teman sekelasnya diganggu anak-anak nakal setiap hari. Maruko membela Takashi dan anak-anak nakal itu mendorongnya sampai terjatuh dan kepalanya membentur sudut papan tulis. Maruko menangis. Bukan karena sakit. Bukan karena darah yang mengalir dari luka di kepala itu. Ia menangis karena ia tahu ibunya akan sedih mengetahui ia terluka karena bertengkar dengan teman di kelas.

Di sebuah rubrik konsultasi psikologi di sebuah tabloid beberapa tahun lalu tertulis sebuah surat dari seorang pembaca. Pengirimnya seorang gadis yang kuliah di kota Y. Ia hamil di luar nikah dan bingung harus berbuat apa. Nasihat sang psikolog sungguh menarik. Saya ingat kata-kata pembukanya, “Nona X, saat ini saya yakin ribuan ibu-ibu pembaca tabloid ini yang anak gadisnya kuliah di kota Y pasti sedang harap-harap cemas berdoa semoga anda bukan anak mereka…bla..bla..bla…”Itulah yang membuat saya berusaha menahan airmata saya agar tak runtuh belakangan ini setiap kali berita tragis itu diungkit lagi dan lagi.

Berita penculikan, perampokan, dan pembunuhan 3 orang muslimah –1 orang selamat– sepulang dari pengajian malam Jum’at di Daarut Tauhiid. Di TV, saya lihat pemandangan seorang ibu menangis –kemungkinan besar ibu korban— menatap sungai Citarum yang hitam kelam, ketika itu jenazah kedua korban belum ditemukan.

Dan ternyata tak cuma ibu itu yang khawatir. Ibu saya di rumah pun ketika menyaksikan berita itu, seperti diingatkan pada saya, putri bungsunya yang kuliah di Bandung, berjilbab, dan kadang-kadang suka datang juga ke pengajian itu. Sehari setelah kejadian, Ibu menelepon, mengingatkan saya agar hati-hati saat naik angkot, hati-hati saat keluar malam, tak lupa berdoa jika meninggalkan kosan, dst, dst. Nasihat-nasihat itu sudah sering saya dengar, namun biasanya tak serius saya perhatikan, hanya sambil lalu saya jawab iya…iya…Tapi sekarang, nasihat itu terdengar berbeda dan entah kenapa ketika ibu menutup teleponnya malam itu, saya tiba-tiba ingin sekali menangis. Perih rasanya membayangkan situasi maha sulit yang dialami saudari-saudari saya –para korban itu—lebih perih lagi jika membayangkan
ibu yang menangis di tepian Citarum itu adalah ibu saya.

Betapa ajaibnya perasaan seorang ibu. Sungguh ajaib bagaimana Allah sengaja menciptakan “program”, “ramuan”, “ chemistry” yang lain dari yang lain khusus untuk ibu di seluruh dunia. Ya, semua ibu akan sedih, semua ibu akan khawatir, semua ibu akan menangis jika terjadi sesuatu yang buruk yang sudah atau bahkan belum terjadi pada anaknya.

Ya Robb, ingin sekali saya berjanji pada ibu, saya akan baik-baik saja selama jauh darinya. Saya akan jadi anak manis, saya akan selalu berhati-hati, tak akan ada kecelakaan karena kecerobohan saya, tak akan ada orang-orang jahat yang mengelilingi saya, tak akan….Ya Robb, saya tahu ini akan sulit sekali, maka yang kulakukan hanya memohon kepadaMu, kabulkanlah doa ibuku agar Engkau mau
menjagaku, sepanjang waktu. Amiin.

Categories: Artikel Tags:
  1. siska maiyasih
    December 8, 2014 at 3:24 pm

    yang ku lakukan hanya memohon kepada Allah SWT untuk selalu menjaga ibu ku tersayang……………

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: