Home > News, Nunuk's News > Harga Gabah Anjlok Petani Rugi Besar

Harga Gabah Anjlok Petani Rugi Besar

Panen raya yang sedang berlangsung saat ini disebagian wilayah kabupaten Indramayu, seperti Kec Lelea, Cikedung, Trisi dan Kecamatan Tukdana kurang begitu menguntungkan bagi petani. Pasalnya harga gabah saat ini jauh di bawah harga sebelumnya.
Rata-rata harga gabah kering petani saan ini, hanya dihargai oleh para tengkulak antara Rp1.700-Rp2.000 per kilogramnya tergantung kualitas gabahnya. Yang sebelumnya sempat dihargai Rp3.000 per kilonya.
Harga ini membuat para petani merugi puluhan juta rupiah, karena harga produksi gabah saat ini, tidak sebanding dengan biaya produksi yang dikeluarkan oleh petani yang terus mengalami kenaikan disetiap musimnya, terutama obat pembasmi hama padi.
Menurut petani jatuhnya harga saat ini, tidak hanya disebabkan berbarengannya panen raya dibeberapa wilayah kab Indramayu, juga disebabkan oleh curah hujan tinggi belakangan ini, yang menyebabkan petani sulit mengeringkan gabahnya. Hal ini menurunkan kualitas gabah sehingga petani sulit menaikan harga tawar pada tengkulak.
Menurunnya kualitas gabah, banyak yang disebabkan oleh bancir yang sempat melanda, membuat gabah berwarna kehitaman. Juga curah hujan yang tinggi menyebabkan proses pengeringan menjadi lamban.
Sardiwan (45 tahun) petani asal desa Jatisura Kec Cekedung mengungkapkan keluhannya terhadap jatuhnya harga gabah dipasaran, yang dipastikan kalau dijual saat ini mengalami kerugian. Sedangkan kalau disimpan menunggu stabilnya harga gabah, dengan cuaca seperti sekarang dirinya mengalami kesulitan untuk mengeringkan gabah. Kalau dipaksakan dijual sekarang jelas kita akan rugi, tapi kalau menunggu takut tidak bisa dikeringkan ujar Sardiwan.
Hal yang sama juga keluhkan oleh Toat (56 tahun) asal Desa Nunuk Kec Lelea, jatuhnya harga gabah menyebabkan dirinya sulit mengembalikan modal biaya produksi yang diperoleh dari pinjaman. Namun dirinya berharap, curah hujan dapat berkurang sehingga gabahnya dapat memenuhi kualitas yang memadai yang mampu sedikit menaikan harga tawar pada tengkulak.
Sulitnya dalam mengeringkan padi menyebabkan para pemilik penggilingan padi banyak yang menghentikan produksinya. Karena sulitnya untuk mengeringkan padi yang baru dibeli pada petani yang belum memenuhi standar kulaitas penggilingan. Sedangkan kalau dipaksakan, beras yang dihasilkan mengalami pecah-pecah yang sutah tentu akan menurunkan harga beras dipasaran.
Kalau dipaksakan memproduksi padi yang kandungan air pada gabah belum minimal, pruksi beras yang diahsilkan kurang bermutu, lebih baik sementara kita berhenti dulu menungggu gabah kering yang terlanjur kita beli pada petani ujar Carta (38 th) pemeilik penggilingan padi asal Desa Cadangpinggan.

sumber: http://www.pelita.or.id

Categories: News, Nunuk's News Tags: , ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: